Senin, 12 September 2016

Pengalaman Mencari Perguruan Tinggi (Part II)

Assalamualaikum, kali ini saya mau nglanjutin cerita saya sebelumnya tentang perjuangan saya dalam mencari perguruan tinggi.


Nah, walaupun udah berhasil diterima di D4 Teknik Informatika Polije, aku akhirnya memutuskan untuk juga mendaftar ke salah satu perguruan tinggi kedinasan, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Aku daftar kesana, karena seluruh biaya kuliah di STIS ini nantinya ditanggung oleh negara, jadi lumayan kan ? Orang tua kita gak perlu lagi ngeluarin uang untuk kuliah, dan cuma perlu ngeluarin uang untuk biaya hidup dan biaya kos. Selain itu, lulusan STIS ini juga langsung dapat gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST), dan langsung dapat kerja di Badan Pusat Statistik (BPS).

Tapi ya seperti biasa, perguruan tinggi kedinasan ini dari tahun ke tahun, selalu banyak peminatnya. Di tahun 2016 ini aja, ada 23.000an orang yg daftar ke STIS, padahal STIS cuma bisa nerima kurang dari 500 orang. Jadi kebayang kan, betapa ketat persaingannya :D

Nah, langsung aja, di ujian tahap pertama, yang diujikan adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Kita dikasih waktu 1,5 jam untuk ngerjain 120 soal, dan  ngerjainnya harus pake pensil 2B, bukan yg lain. Di tahap ini, gak ada nilai mati, jadi kalo kamu gak terlalu bisa Matematika, berusahalah lebih keras di Bahasa Inggrisnya. Jadi walaupun dapat nilai gak terlalu bagus di Matematika, bisa terbantu dengan nilai baik di Bahasa Inggris. Tapi ya tetep, kalian harus bisa ngimbangin keduanya, karena lagi-lagi, persaingannya sangat ketat vroh, gak cukup kalo cuma ngadalin satu mapel aja. :D

Untuk regional Surabaya, lokasi ujian tahap satunya tahun 2016 lalu, ada di Universitas Bhayangkara, di dekat Mapolda Jatim, jadi gampang banget nyarinya. Ubhara ini sangat dekat dengan Terminal Purabaya, Bungurasih. Setelah turun dari bus, kalian bisa langsung cari ojek dan ngomong aja kalo mau ke Ubhara, ongkosnya gak terlalu mahal kok, cuma 15.000 per orang.

Nah, singkat cerita, aku akhirnya berangkat ke Surabaya, dan akhirnya nyampe ke Ubhara, dan langsung deh ngerjain soal-soalnya.

Dua minggu kemudian, tibalah hari pengumuman, dan aku pun dengan gugup membuka website STIS, dan setelah berhasil download pengumumannya, aku cari deh nomor ujian aku, dan ternyata ADA ! Syukur deh aku lolos, karena sebenernya aku agak pesimis, setelah ngerjain soal-soalnya yg sulitnya minta ampun itu. --"

Berhubung aku lolos, aku pun langsung daftar ulang ke Aplikasi SPMB STIS, dan disana aku diberitahu kalo ujian tahap dua regional Surabaya akan diadakan dua minggu kemudian, di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Ujian tahap dua ini adalah Psikotes.

Aku pun langsung cari-cari pinjeman buku latihan psikotes (maklum males beli :D), dan setelah berhasil pinjem beberapa, aku pun memperlajarinya, dan setelah aku pikir-pikir, psikotes ini sebenarnya gak bisa dipelajari, karena psikotes ini menguji psikologi kita, yang tentu gak bakal berubah dengan hanya belajar dari buku, jadi ya kita belajar ini cuma untuk sekedar tau soal2nya, tanpa terlalu banyak bisa mengubah hasil di psikotes, karena psikologi masing-masing manusia ini pada dasarnya emang sulit diubah.

Singkat cerita, akhirnya aku berangkat lagi ke Surabaya, dan ngerjain soal-soal psikotes yang sangat menguras otak itu. :D Oh iya, di Psikotes ini kalian memang harus mengerjakannya dengan pensil HB (inget ya, pensil HB, jangan dibalik-balik :v). Tapi jangan lupa bawa juga pensil 2B, karena walupun gak disuruh bawa sama pihak STISnya, kalian pasti butuh pensil 2B ini. Percaya deh. :D

Dua minggu kemudian, tibalah hari pengumuman, dan setelah di cek, ternyata nomor ujianku ADA LAGI ! Alhamdulillah, berarti usaha aku waktu itu gak sia-sia. :)

Aku pun langsung daftar ulang, dan disana langsung diberitahu kalo ujian tahap ketiga adalah Ujian TKD dan Kesehatan, dan akan dilaksanakan dua minggu kemudian. Nah, karena ada dua tes, tesnya pun jadi dua hari, dan dilaksanakan di dua tempat yang berbeda. Kita akan lebih dulu menjalani ujian TKD, dan untuk regional Surabaya, ujian TKDnya dilaksanakan di Kantor Regional II BKN, Surabaya (itu nama resminya, walupun sebenernya lokasi tepatnya ada di Sidoarjo, tapi mungkin karena nama Surabaya lebih terkenal :D). Lagi-lagi, lokasinya sangat dekat dengan Terminal Bungurasih.

Nah, TKD ini dibagi jadi 3 subtes dan ada nilai matinya, jadi kalo ada satu aja nilai dari tiga subtes ini dibawah ketentuan, kalian langsung dinyatakan tidak lolos, dan ya gak bisa lanjut ke Tes Kesehatan.

Singkat cerita aku pun langsung berangkat lagi ke Suroboyo, dan langsung ngerjain soal-soal TKDnya, yang ternyata jauh dari imajinasiku. Gak satupun aku temui soal hafalan pasal-pasal UUD 1945, padahal aku udah ngapalin beberapa pasal penting. Hadeh, rugi deh --"

Setelah ngerjain, kita disuruh nunggu 30 menit, dan setelah ditunggu, ternyata langsung diumumkan hasilnya, dan Alhamdulillah aku bisa lolos !

Kita pun langsung disuruh ke sebuah aula, dan disana kita diberi pengarahan sama Kepala BPS Jatim, dan disana juga diberitahu kalo Ujian Kesehatannya akan diadakan keesokan harinya di RSUD dr. Soetomo, yang kebetulan deket banget sama Stasiun Surabaya Gubeng. Untuk tes kesehatan ini, kita diharuskan puasa dari jam 21.00 hari itu, sampe keesokan harinya saat darah kalian udah diambil. Walaupun begitu, kita juga tetep boleh minum, tapi cuma minum air putih. :D

Nah, singkat cerita, aku langsung cari penginapan murah di deket RSUD, dan Alhamdulillah bisa nemu satu penginapan, yang tarif satu malamnya cuma Rp. 50.000,-. Ntaps :D

Setelah tidur semalaman, aku pun langsung jalan kaki ke RSUD, dan disana langsung deh antri, untuk diambil darahnya. Setelah antri, darah yang diambil cukup banyak ternyata T_T, dan setelah itu, kita langsung diberi nasi dan lauk sekotak untuk dimakan. Setelah 2 jam, kita harus antri lagi untuk diambil darahnya lagi T_T. Setelah itu, kita dikasih botol kecil, untuk diisi dengan air kencing kita, setelah sukses ngisi botol itu, kita pun harus langsung nyerahin botolnya ke petugas. Setelah itu, kita disuruh ke laboratorium radiologi, untuk menjalani Rontgen. Nah, untuk yg cowok, kita harus melepas baju atasan kita untuk Rontgen, dan untuk yg cewek juga dilepas loh.... :D Tapi tenang, pihak RSUD udah nyiapin baju khusus buat kalian para cewek, supaya tetep bisa njalanin Rontgen tanpa harus malu. :D

Nah, setelah itu, kita disuruh nunggu sekitar satu jam, untuk meyakinkan bahwa data-data dari kita yang diperlukan oleh pihak RSUD udah lengkap semua. Setelah itu, kita boleh pulang deh....

Nah, dua minggu kemudian, akhirnya hari pengumuman pun tiba, dan setelah download pengumuman, aku pun langsung cari-cari nomer ujian aku, dan ternyata nomer ujian aku NGGAK ADA ! :( Dan itu artinya aku gak bisa diterima di STIS. Sedih sih, tapi buat apa terlalu sedih, lagipula aku kan udah berusaha, jadi walaupun gagal, setidaknya aku udah pernah nyoba.

Oh, iya, selama mengikuti ujian-ujian ini aku tentunya nggak sendirian, aku selalu ditemani sama orang tuaku. Big thanks buat orang tuaku yang udah nyempet-nyempentin nganterin anaknya yg satu ini untuk ujian, di sela-sela pekerjaannya, yah, walaupun akhirnya hasilnya gak sesuai harapan :(. Aku gak nyaranin kalian pergi ke tempat-tempat ujian itu sendiri, karena itu terlalu beresiko.

Sekian cerita saya kali ini, semoga bermanfaat, see you on the next post !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan sopan...